Waktu Ibadah Berdasarkan Tanggal dan Hari

Secara umum, waktu pelaksanaan ibadah dalam Islam bisa dibagi dua, yaitu dilaksanakan berdasarkan tanggal atau berdasarkan hari. Waktu ibadah yang didasarkan pada tanggal artinya ibadah yang dilaksanakan bila bertepatan dengan tanggal disyari’atkan ibadah tersebut. Tentunya yang dimaksud dengan tanggal di sini adalah tanggal dalam penanggalan tahun qomariyah yang penentuannya berdasarkan rukyatul-hilal, sebagaimana dalam banyak dalil syar’i. Contoh yang termasuk dalam ibadah ini adalah ibadah puasa Ramadhan yang dimulai dari tanggal 1 Ramadhan hingga akhir bulan. Begitu juga ibadah puasa Asyura pada 10 Muharram, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah dan yang semisalnya.

Sedangkan jenis ibadah berdasarkan hari artinya ibadah yang dilaksanakan bila bertepatan dengan hari disyari’atkannya ibadah tersebut. Dalam ibadah ini, hari yang dimaksudkan juga adalah makna hari berdasarkan penanggalan tahun qomariyah. Dalam makna ini, satu hari dimulai dari sejak tenggelamnya matahari hingga tenggelam matahari keesokan harinya. Tentunya definisi ini berbeda dengan hari dalam penanggalan syamsiah yang perhitungannya sejak jam 00.00 tengah malam hingga tengah malam keesokan harinya. Contoh ibadah yang berdasarkan hari misalnya shalat Jum’at atau ibadah-ibadah yang dikhususkan untuk hari Jum’at, puasa Senin-Kamis dan yang semisalnya.

Nah, dampak dari kekurangtahuan atas perbedaan jenis ibadah ini sering membuat umat Islam bingung dalam melakukan ibadah. Contoh yang paling hangat sekarang ini adalah polemik hari raya Idul Adha tahun 1435 H, dimana terjadi perbedaan hari antara Indonesia yang melaksanakan pada hari Ahad dan Arab Saudi yang melaksanakannya di hari Sabtu. Satu yang pasti perbedaan ini disebabkan penetapan tanggal 1 Dzulhijjah yang berbeda antara Indonesia dan Arab Saudi. Berdasarkan sidang itsbat, setelah dilakukannya rukyatul hilal dan tidak nampaknya hilal bulan Dzulhijjah, maka Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Dzulhijjah 1435 bertepatan dengan Jum’at, 26 September 2014. Sedangkan Pemerintah Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijjah 1435 bertepatan dengan Kamis, 25 September 2014 berdasarkan nampaknya hilal di sana.

Sebelum melanjutkan, yang perlu diketahui bahwa penetapan berdasarkan hilal oleh kedua pemerintah telah benar berdasarkan dalil syar’i –dengan rukyatul hilal, walau hasilnya berbeda. Artinya, penetapan 1 Dzulhijjah kedua pemerintah tersebut benar walau harinya berbeda. Pada kasus ini terjadi tanggal yang sama (1 Dzulhijjah 1435 H) dan hari yang berbeda (Kamis dan Jum’at). Dan penetapan tanggal yang sama tapi terletak pada hari yang berbeda ini memiliki dampak beruntun hingga pada penentuan puasa hari Arafah dan hari raya Idul Adha. Sampai di sini, perlu kita ketahui terlebih dahulu, apakah ibadah puasa Arafah dan hari raya Idul Adha itu termasuk ibadah yang didasarkan atas tanggal atau hari? Untuk menentukan hal ini tentunya diperlukan dalil. Berikut bahasannya secara terpisah antara puasa Arafah dan hari Idul Adha.

Pertama, puasa Arafah. Terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. Ada yang menyatakan bahwa puasa Arafah itu adalah ibadah yang berdasarkan dengan hari wukuf di Arafah. Dan pendapat lainnya yang menyatakan bahwa puasa Arafah adalah ibadah yang didasarkan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Perbedaan ini dampaknya berbeda pula. Bila mengikuti pendapat bahwa puasa Arafah didasarkan atas hari wukuf di Arafah, maka seandainya di Makkah melakukan wukuf pada hari Jum’at, maka puasa Arafah harus dilakukan serentak di hari Jum’at di seluruh belahan dunia. Hal yang berbeda bila mengikuti pendapat bahwa puasa Arafah didasarkan atas tanggal 9 Dzulhijjah. Hari apa pun itu selama bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah, syari’at puasa Arafah berlaku walaupun di Makkah melaksanakannya di hari Jum’at sedangkan di Indonesia di hari Sabtu.

Kedua, hari raya Idul Adha. Hampir sama dengan perbedaan puasa Arafah, hari Idul Adha ada yang menyebutkan pelaksanaannya adalah sehari setelah puasa Arafah. Dan satu pendapat lain bahwa Idul Adha adalah hari raya yang bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah. Tentunya penjelasan perbedaannya akan sedikit sama dengan yang pertama tadi. Untuk permasalahan dua pendapat ini, saya sendiri lebih memilih pendapat bahwa hari puasa Arafah dan Idul Adha merupakan ibadah yang didasarkan atas tanggal (baca Kapan Puasa Arafah?).

Kita telah melihat perbedaan mendasar antara waktu ibadah yang didasarkan atas tanggal dan hari. Dan yang perlu dilakukan saat ini adalah saling toleransi dalam hal perbedaan pendapat alias khilaf seperti ini. Tahukah kita bahwa selama ini ibadah shalat Jum’at yang kita lakukan setahun ini ternyata tidak semuanya berada pada tanggal yang sama? Bagaimana bisa? Ya bisa jadi. Bila pada ibadah yang berdasarkan tanggal –seperti awal puasa Ramadhan, Idul Fithri, Idul Adha– bisa terjadi dilaksanakan pada tanggal yang sama tapi hari berbeda. Maka pada ibadah yang berdasarkan hari, bisa jadi pelaksanaannya pada hari yang sama tapi tanggal berbeda. Pekan ini, hari Jum’at di Makkah adalah tanggal 9 Dzulhijjah sedangkan di Indonesia baru tanggal 8 Dzulhijjah. Pekan depan, hari Jum’at di Makkah adalah tanggal 16 Dzulhijjah sedangkan di Indonesia baru tanggal 15 Dzulhijjah, demikian seterusnya. Tapi ternyata semua tidak mempermasalahkannya selama ibadah shalat Jum’at dilaksanakan pada hari Jum’at. Nah, demikian pula semestinya pada ibadah yang didasarkan pada tanggal, janganlah dipermasalahkan harinya selama puasa Ramadhan dimulai pada tanggal 1 Ramadhan, Idul Fithri dilaksanakan pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah.

Lantas kenapa selama ini, polemik ibadah yang didasarkan atas tanggal selalu berdampak luas bila dibandingkan dengan ibadah yang didasarkan atas hari? Jawabannya ada pada umat Islam itu sendiri. Karena umat Islam sudah terbiasa menggunakan penanggalan syamsiah miladiah alias kalender masehi yang menggunakan pendekatan GMT serta sudah meninggalkan penanggalan qomariyah atau hijriah. Umat Islam sudah tidak kenal lagi dengan penanggalan hijriah. Padahal dalam penanggalan hijriah tidak ada istilah yang semisal dengan GMT. Dengan penanggalan syamsiah dan GMTnya, umat sudah terbiasa dengan istilah “tanggal dan hari yang sama”, bahwa hari Jum’at pekan ini di seluruh belahan dunia semuanya berada pada tanggal 3 Oktober dan pekan depan pada tanggal 10 Oktober tak terkecuali. Umat sudah terbiasa menolak adanya hal semisal “tanggal sama, hari berbeda” ataupun pendekatan “hari sama, tanggal berbeda”.

Dalam penanggalan hijriah, “GMT” bisa berada di mana saja setiap bulan berjalan. Di bulan Muharram bisa berada di Australia, di bulan Shafar bisa di Meksiko, di bulan Ramadhan bisa di Makkah dan seterusnya. Bulan Dzulhijjah 1435 kali ini Indonesia bisa berbeda hari untuk tanggal yang sama dengan Makkah, tapi bisa jadi di tahun 1436 Indonesia akan mengalami tanggal dan hari yang sama sebagaimana tahun lalu. Berlaku pula untuk puasa Ramadhan dan Idul Fithri 1435 kali ini Indonesia dan Saudi Arabia mengalami tanggal dan hari yang sama, tapi bisa jadi tahun depan akan mengalami hal yang berbeda. Wallahu ‘alam.

Peta Waktu berdasarkan GMT

sutriadi

Moslem, physician teacher, amateur programmer.

You may also like...

6 Responses

  1. Wallahu ‘alam. tuklisan yang bermanfaat.

  2. Sudarmadi says:

    Alhamdulillah keterangan sangat bagus netral dan obyektih jauh dari nafsu

  3. Aswin Lubis says:

    Menurut saya hari dimulai pada waktu Matahari terbit. Dan berakhir ketika matahari tenggelam.

    • sutriadi says:

      Bila yang dimaksud dengan hari adalah siang, dan disandingkan dengan malam, maka definisi hari adalah dimulai dari terbit matahari dan tenggelam matahari, dan malam adalah dimulai dari tenggelam matahari hingga terbit matahari. Adapun bila definisi hari adalah siang + malam, maka definisinya tergantung penanggalan. Apakah syamsiah yg dimulai dari pukul 00.00 hingga pukul 24.00, atau berdasarkan penanggalan hijriah yg dimulai dari terbenamnya matahari hingga terbenamnya matahari keesokan harinya. Dan dikarenakan saat terbenam matahari yg bervariasi sepanjang tahun, tidak ada pukul yg pasti utk dimulainya hari. Oleh karena itu dibutuhkan rukyat, atau pemakaian kalender terbenamnya matahari.

  4. Aswin Lubis says:

    Siapa orang yang pertamakali menentukan nama-nama hari? Jika umat Islam shalat pada hari Jum’at berdasarkan kalender Masehi, apakah sudah tepat hari tersebut adalah hari Jum’at menurut penanggalan Hijriyah?

    • sutriadi says:

      Nama-nama hari sudah ada sejak zaman nabi Adam ‘alaihissalam. Perbedaan kalender masehi dan hijriah secara garis besar hanya pada penentuan awal hari –yg perbedaannya ada di malam hari– dan penentuan awal bulan. Adapun nama harinya tetap sama. Maka tidak ada perbedaan untuk shalat Jum’at di hari jum’at berdasarkan kalender masehi dan kalender hijriah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *