Mana Kesantunan Rakyat Indonesia?

Seperti apa malunya seorang pemimpin ketika dipermalukan di depan umum? Ketika dipermalukan di depan rekan-rekan sesama pemimpin? Atau ketika dipermalukan di depan dunia? Apalagi yang mempermalukan adalah yang mengaku sebagai yang dipimpin. Ketika yang mempermalukan ternyata lebih muda usianya. Terlebih yang dipermalukan belum terbukti sebagai orang yang bertanggung jawab atas alasan apa dia dipermalukan.

Ah, sudah terlalu banyak fatwa-fatwa para ulama yang memperingatkan tentang adab terhadap pemimpin. Adab terhadap pempimpin merupakan salah satu kunci berhasilnya suatu bangsa dan ciri diseganinya bangsa tersebut di dunia. Saya contohkan bagaimana kesetiaan yang dipimpin terhadap pemimpin akan membawa kesuksesan terhadap suatu bangsa dari salah satu sejarah terkenal dalam dunia. Yakni ketika seorang Musa ‘alaihissalam yang memimpin kaum Bani Isra`il ternyata mengalami kegagalan karena sifat Bani Isra`il yang suka membangkang serta terlantar di gurun selama 40 tahun. Dan coba bandingkan dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil memimpin umat yang disebabkan saat itu para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum ajma’in terkenal dengan kesetiaannya.

Masih ingat dalam benak ini, ketika lima tahun lalu mengkritik walikota yang merupakan atasan saya sendiri secara khusus dan secara umum pemerintahan kota. Sebelumnya amarah saya sedang memuncak sehingga harus berakhir dengan kritik di blog pribadi. Saat itu UU ITE sedang ramai-ramainya dibahas dan dalam tahap penerapan, sehingga saya harus berhadapan dengan umum. Syukur kasus itu tidak berlanjut. Yang saya garis bawahi, bahwa kasus saya menjadi perhatian publik satu provinsi saat itu. Saat itu juga, selain aku, walikota pun menjadi sorotan publik.

Saat itu saya melayangkan kritik, bukan ejekan. Dan dampaknya adalah malu yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah. Malu? Kenapa? Karena tidak bisa mendidik seorang PNS. Karena telah disorot hingga tingkat provinsi. Karena telah diketahui bahkan oleh kolega-kolega para pejabat pemerintah yang bahkan berada di luar negeri. Sekiranya tidak ada malu, mana mungkin saya dilaporkan ke polisi.

Untunglah saat ini kita dipimpin oleh seorang kepala negara yang tidak mengenal kata marah untuk para pengejeknya. Peristiwa tagar yang menghebohkan dunia media sosial hingga ke ujung dunia bahkan tidak menggelitik beliau untuk melaporkan si pencetus tagar. Padahal, bila ingin diselidiki akan bisa diketahui siapa yang pertama menyebarkan tagar tersebut. Mereka yang menyebarkan tagar hendaklah malu, karena mereka tinggal di negara yang dipimpin oleh pemimpin yang mereka cemooh. Mengejek pemimpin sama seperti mengejek diri sendiri. Karena bila kita mengejek pemimpin sebagai yang dungu, maka bagaimana lagi dengan yang dipimpin?

Sekedar menyebarkan tagar tak kan mengubah keadaan. Tak kan membuat derajat bangsa naik. Tak kan membuat perubahan berarti. Yang ada adalah malu karena seluruh dunia mengetahuinya. Yang ada adalah malu karena dunia tahu bahwa ternyata rakyat Indonesia tipis akhlak dan kesantunannya terhadap pemimpin.

sutriadi

Moslem, physician teacher, amateur programmer.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *